Senin, 10 Maret 2008

Realitas Bangsa Berdiri tanpa Keberpihakan


Ketakutan kita terhadap dampak kebijakan politik yang berbasis pada kepentingan ekonomi seringkali menjadi bahan kajian oleh banyak pemikir, utamanya di masa kini. Banyak kebijakan pemerintah yang mengabaikan kondisi sosial yang semakin hari semakin terjepit karena dampak kebijakan itu. Sebagai orang yang berfantasi untuk menjadi salah satu bagian dari masyarakat yang berguna atas penanggulangan kondisi itu, saya tergelitik untuk berkomentar atas realitas kebangsaan saat ini.

Hiruk pikuk gerakan sosial yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa, Non Goverment Organization (NGO), bahkan komunitas gerakan lain yg memiliki kepedulian atas terwujudnya negara yang sejahtera (Welfare State) bisa dilihat sudah kehilangan taringnya dalam mengawal perubahan. Bahkan akhir-akhir ini banyak kita lihat dalam pemberitaan media massa atas prilaku yang berdampak atas citra yang nempel dengan fungsinya sebagai agent of change. Lihat saja aksi tawuran di Universitas Hasanuddin Makasar, bentrok pemilihan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bengkulu dan lain-lain. Fenomena itu adalah bentuk bergesernya idealitas gerakan yang notabene menjadi corong suara rakyat.

Gerakan sosial yang seperti itu dapat kita analisis indikasinya dengan kondisi kebangsaan, dalam konteks politik International dan Nasional, ekonomi politik, sosial, budaya. Tentunya realitas hari ini juga tidak terlepas dari tarik menariknya kepentingan global (negara maju) atas negara dunia ke tiga, seperti Indonesia.

Greget gagasan anak muda tentang penolakan atas laju asing dapat difilterisasi menjadi gugus ideologis tanpa melepas teks yang ada. Kontekstualisasi dari reinterpretasi pancasila, dapat menjadi semangat baru untuk mengugah kesadaran masyarakat indonesia atas kemampuannya untuk BERDIKARI (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Barangkali dengan mengintrodusir pemikiran Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir dkk. dapat mengembalikan semangat perlawanan anak bangsa dalam mengusir penjajah. Sebenarnya kalau mau ditelisik lebih mendalam, dapat dipastikan akan terjumpai penjajahan yang lebih kejam dari pada penjajahan belanda ditempo itu. Karena penjajahan di zaman ini tidak dapat terlihat secara kasat mata. Arus globalisasi tengah menjadi virus atas jati diri bangsa yang sedang kita idamkan kehadirannya.

Keberpihakan
Naif kiranya ketika kita hanya mampu untuk menganalisis realitas tanpa ada keberpihakan secara kongkrit. Tindakan yang radikal akan teraktualisasi dalam kerangka gerak, ketika ada sebuah amunisi yang berbasiskan realitas lengkap dengan epertimologi gerakannya.

Seperti yang dilakukan para ‘Bung’ Indonesia (Bung Karno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir,dll.) adalah sebuah sikap dan tindakan yang dampaknya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat Indonesia.

Maka jadilah orang yang seperti mereka, agar perubahan yang selama ini mengendap dalam fantasi kita dapat menjadi realitas kebangsaan yang terasa oleh semua rakyat Indonesia. Jangan samapai arus pengetahuan dan praktik positivisme menjadi karakter ideologis yang tak terbendung. Tugas oraganisasi gerakanlah yang seharusnya intens dalam melakukan penyaringan terhadap mengkarakternya ideologi yang di cetuskan oleh agus comte (1798-1857) tersebut.

Dalam khazanah pengetahuan filsafat positivis sangat gamblang teruraikan bahwa ada sebuah pemisahan antara realitas praksis dengan teori. Artinya teori di posisikan sebagai sebuah nilai pengetahuan yang netral tanpa ada keberpihakan terhadap kelompok yang terdominasi. Epistema positivis yang sperti itu kemudian menjadi indikasi munculnya gagasan kritis yang lahir dari kelompok Mazhab Frankfrut dengan dipelopori oleh Horkheimer, Adorno, Habermas, dll. Mereka menyambutnya dengan memposisikan teori atau pengetahuan yang dapat menembus realitas. Pengetahuan merupakan hasil dialegtis dari realitas dengan teori, sehingga adanya teori yang dihasilkan dari dialegtika tersebut harus memiliki nilai keberpihakan terhadap realitas yang timpang. Setidaknya aksi itu dapat meminimalisir adanya hegemoni kesaaran yang sampai hari ini masih didominasi oleh kesaaran positivistik. (Budhi Hardiman, Fransisco ; 2003 : 18)

Adapun gelanggang pengetahuan yang ada di Indonesia saat itu sempat terisi dengan para pemikir yang sering kali kita sebut dengan sapaan ‘Bung’. Semisal saja Bung Karno yang geli melihat penjajahan sampai akhirnya banyak mencipta karya tulisan lewat buku-bukunya seperti ‘Mencapai Indonesia Merdeka’ (ditulis pada maret 1933 di Bandung). Dimana bahasan pokok yang terdapat didalamnya yaitu tentang rakyat jelata Indonesia yang dalam perjalanan sejarah terus menerus mendapatkan penindasan oleh kalangan penjajah. Rakyat dijadikan sapi perah oleh kelompok kapitalisme-imperialisme eropa (Belanda) yang secara ekonomi selalu menghisap melalui sitem perekonomian yang memonopoli dan memaksa kita untuk berada di dekapan kepentingannya.(Sutrisno, Mudji ; 2005 : 16)

Maka dari itu menjadi penting bagi generasi yang hidup di orde karang (disadur dari lirik lagu 17 April-Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) ini untuk kemudian mencapai sebuah sintesa dari realitas kesejarahan pergulatan pemikiran para ‘Bung’ Indonesia yang tak menutup kemungkinan untuk disinergiskan dengan Ideologi-Ideologi besar dunia.

Kedepan dapat diharapkan adanya sebuah formulasi pemikiran yang dapat merubah kondisi bangsa melalui gerakan dimasing-masing lokus dan concernnya masing-masing. Mahsiswa dengan gerakan Intelektualnya, Lembaga Swadaya Masyarakat dengan gerakan advokasinya, Patai politik dengan gerakan politiknya , dll.

Kegundahan masyarakat akan terjawab dengan adanya evolusi yang mengarah pada perbaikan yang berbasiskan realitas praksis dan pergulatan pemikiran. Sejarah panjang ini kemudian akan dapat berakhir dengan kisah yang menyegarkan bagi kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Lalu, seberapa besar nyali kita untuk memulai semua itu? Dan adakah pelacakan terhadap kesejarahan bangsa yang tentunya bersamaan dengan penjelajahan pemikiran?

Tidak ada komentar: